Wayang Sapuh Leger

Kata “Sapuh Leger” di Bali secara khusus dihubungkan dengan pertunjukkan wayang dalam kaitannya untuk pemurnian kepada anak/orang yang lahir tepat pada wuku wayang dalam siklus kalender tradisional Bali (Di Jawa juga ada bila kalender-nya lengkap). Secara ritual upacara pemurnian dinamakan lukat/nglukat, yaitu suatu aktivitas untuk membuat air suci (tirta) yang dilakukan baik oleh seorang pendeta (pedanda/pemangku) maupun seorang dalang (Mangku Dalang) dengan tujuan untuk membersihkan mala (kekotoran) rohani seseorang.
Kenyataannya di lapangan bahwa ada dua macam upacara pembersihan (nglukat) dengan sarana wayang kulit yakni Sudhamala dan Sapuh Leger. Sudhamala adalah pembuatan air suci (tirta panglukatan) yang dilakukan dalang setelah pentas wayang berakhir, ditujukan untuk pemurnian pada upacara keagamaan yang meliputi upacara panca yajna (dewa yajna, rs yajna, pitra yajna, manusa yajna, dan butha yajna), sedangkan sapuh leger adalah pembuatan air suci (tirta panglukatan) yang dilakukan seorang dalang sehabis pertunjukkan wayang, ditujukan untuk pembersihan seseorang yang khusus lahir pada wuku wayang.
Istilah sapuh leger berasal dari kata dasar “sapuh” dan “leger”. Dalam kamus Bali-Indonesia, terdapat kata sapuh yang artinya membersihkan, dan kata leger sinonim dengan kata leget (bahasa jawa) yang artinya tercemar atau kotor. Sehingga secara harfiah sapuh leger diartikan pembersihan atau penyucian dari keadaan tercemar atau kotor. Secara keseluruhan, wayang sapuh leger adalah suatu drama ritual dengan sarana pertunjukkan wayang kulit yang bertujuan untuk pembersihan atau penyucian diri seseorang akibat tercemar atau kotor secara rohani.
Pertunjukan wayang kulit di Bali secara tradisional memang erat kaitannya dengan upacara penyucian atau pembersihan, ditandai dengan keterlibatannya pada setiap upacara. Wayang selalu hadir pada setiap upacara baik sebagai bagian (wali) maupun sebagai pengiring (bebali) disamping jenis kesenian lainnya. Suatu hal yang menjadi pertanyaan adalah mengapa upacara sapuh leger selalu dikaitkan dengan wayang? Menurut Sunarto Timur (seorang ahli pewayangan dan pemerhati budaya asal Surabaya) menyatakan bahwa budaya ruwatan dengan pertunjukkan wayang di Jawa ada tiga factor yang mendukung, antara lain:
– tradisi
– hak sejarah
– pasemon filosofik
Secara tradisi, wayang merupakan suatu peninggalan sector kehidupan masyarakat yang diadatkan karena disakralkan atau dianggap sacral, oleh sebab itu sulit dihapus. Dalam perjalanan sejarahnya adalah suatu kenyataan bahwa asal mula wayang merupakan perabot sarana upacara keagamaan (ritus) pada zaman animisme nenek moyang kita. Dari kajian filosofisnya, wayang sarat dengan perlambang atau makna simbolik mengenai kehidupan dunia melalui siratan lakon atau perwatakan tokoh-tokoh wayang itu sendiri, sehingga ada kemungkinan untuk melakukan pangkajian filosofis terkait dengan makna kehidupan manusia.
Analogi dengan pernyataan diatas, secara tradisi pertunjukkan wayang sapuh leger merupakan suatu peninggalan budaya kehidupan masyarakat Bali yang diadatkan dan dianggap sacral, maka ia termasuk wali (bagian upacara) diselenggarakan untuk upacara keagamaan (manusia yajna) yaitu untuk anak/orang yang lahir pada wuku wayang. Pertunjukkan ini berfungsi sebagai inisiasi, merupakan salah satu upacara ritus yang menyangkut keselamatan kehidupan umat manusia pendukung budaya tersebut. Hal ini sudah menjadi kebiasaan turun-temurun dalam perilaku kehidupan social masyarakat Bali, dengan peristiwa tetap secara periodic, berulang tiap-tiap 6 bulan (210 hari) menurut perhitungan kalender Bali atau 7 bulan Masehi.
Lakon Dewa Kala (Batara Kala di Jawa) mendapat kedudukan yang istimewa dalam kehidupan masyarakat Bali, karena lakon tersebut termasuk mitos yang diyakini dan dipercayai. Menurut Peursen, mitos adalah sebuah cerita yang memberikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang karena mitos pada hakekatnya adalah cerita yang mengandung berbagai symbol dan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat magis dan religius. Sejalan dengan pendapat tersebut diatas, bahwa lakon Dewa Kala dalam pertunjukkan wayang sapuh leger adalah jenis cerita yang mengandung pasemon filosofik dan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat magis-religius.
Orang Bali secara mitologis menganggap pertunjukkan wayang berasal dari dewa-dewa di sorga. Mitos asal-usulnya disebutkan dalam dua naskah lontar yaitu lontar Siwagama dan lontar Tantu Panggelaran. Dalam lontar Siwagama menyebutkan sebagai berikut: ”sinasa ring lemah, ryyarepaning saluagung, ginaweken pnggung Hyang Trisamaya, kumenaken kelirning awayang Bhatara Iswara hudipan, rinaksa de Sanghyang Brahma Wisnu, ginameling langon-langon, winahyaken lampah Bhatara kalih, Sanghyang Kala Ludra lawan Bhatari Panca Durga, sira purwakaning hana ringgit ring Yawa mandala, tinonton ing wwang akweh”. Dalam terjemahan bebas artinya ”di bumi tepatnya di depan rumah Bale Gede, dibuatkan sebuah panggung atau arena Hyang Trisamaya, digelar pertunjukkan wayang memakai kelir, Bhatara Iswara bertindak sebagai dalang/pembicara, didampingi oleh Sanghyang Brahma dan Sanghyang Wisnu, diiringi gamelan Gender dan kecapi, menyanyikan lagu gula ganti, diikuti dengan gerak tari yang menawan, menceritakan perjalanan kedua dewata, yaitu Sanghyang Kala Ludra/Bhatara Siwa dengan Bhatari Panca Durga/Dewi Uma, demikianlah awal mula adanya wayang (ringgit) di bumi Jawa, orang yang menonton sangat banyak”.
Sementara itu lontar Tantu Panggelaran juga menyebutkan tentang asal mula pertunjukkan wayang yang berasal dari dewa-dewa di sorga. Adapun isinya adalah sebagai berikut: ”…Rep saksana Bhatara Iswara Brahma Wisnu umawara pandah Bhatara Kalarudra: tumurun maring madyapada hawayang sira, umucapaken tattwa Bhatara mwang Bhatari ring bhuwana. Mapanggung maklir sira, walulang inukir maka wayangnira, kinudangan panjang langonlangon. Bhatara Iswara sira hudipan, rinaksa sira de Hyang Brahma Wisnu. Mider sira ring bhuwana masang gina hawayang, tineher habandagina hawayang: mangkana mula kacarita nguni..”. Dalam terjemahan bebas artinya ”Para dewa menjadi takut, Siwa yang berwujud Kalarudra berkeinginan akan membinasakan segala isi dunia. Bhatara Iswara, Brahma, dan Wisnu mengetahui hal itu, kemudian turun ke bumi dan mengadakan pertunjukkan wayang. Mereka menceritakan siapa sesungguhnya Kalarudra dan Durga itu. Pertunjukkan itu diadakan di atas panggung dengan kelir, sedangkan wayang-wayangnya dibuat dari kulit binatang yang diukir dan dipahat disertai nyanyian yang menawan. Iswara bertindak sebagai dalang, didampingi oleh Brahma dan Wisnu. Mereka berkelana di bumi ini dengan bermain musik dan memaikan wayang. Dengan ini terciptalah suatu pertunjukkan wayang kulit”.
Naskah lontar Siwagama dan Tantu panggelaran, cukup jelas menyebutkan adanya pertunjukkan wayang lengkap dengan aparatusnya. Walaupun secara ekspilisit disebutkan asal mula pertunjukkan wayang ada di Jawa (Yawa Mandala), namun secara implisit mendekati bentuk pertunjukkan wayang kulit di Bali. Hal itu ditandai dengan digelarnya wayang kulit di tempat khusus (Bale Gede), dalang dibantu 2 orang kanan dan kiri disebut katengkong/tututan, serta menggunakan iringan/gamelan gender. Ketiga dewa (Bhatara Iswara, Brahma, dan Wisnu) sampai sekarang diyakini oleh dalang-dalang Bali membantu mensukseskan pertunjukkan wayang, hal ini jelas sekali tercantum dalam Dharma Pewayangan.
Menurut lontar Sapuh Leger, Bhatara Siwa memberi ijin kepada Dewa Kala untuk memangsa anak/orang yang dilahirkan pada wuku wayang. Berdasarkan isi lontar tersebut diatas, umat Hindu pada umumnya, apabila diantara anaknya ada yang dilahirkan pada hari itu, demi keselamatannya, orang-orang Bali berusaha mengupacarai-nya dengan mementaskan wayang sapuh leger, walaupun alat-alat perlengkapannya harus dipersiapkan jauh lebih banyak (berat) dari perlengkapan sesajen (banten) jenis wayang lainnya.
Ada 3 jenis pertunjukkan wayang yang mendapat kedudukan istimewa diantara jenis wayang lainnya, yakni: Wayang Sapuh Leger, Wayang Lemah, dan Wayang Sudamala yang dianggap sakral karena memiliki fungsu ngruwat. Namun diantara ketiga wayang itu, wayang sapuh leger yang paling istimewa, kenyataan ini didukung oleh ciri-ciri spesifik antara lain:
1. Wayang Sapuh Leger menggunakan repertoar khusus yaitu Batara Kala, suatu mitos yang diyakini ada dan sangat menakutkan serta berbahaya.
2. Watang Sapuh Leger harus dilengkapi sesajen (banten) meliputi pohon pisang (gedebog) berikut buah jantungnya, serta berbagai sesajen lainnya
3. Wayang Sapuh Leger hanya boleh dipergelarkan oleh seorang dalang yang telah disucikan (Ki Mangku Dalang/Sang Mpu Leger) dan memahami isi lontar Dharma Pewayangan dan lontar Sapuh Leger.

Sumber :

Klik Disini..

About ST PUTRA SESANA BIBAN
KAMI SEKAA TRUNA TRUNI PUTRA SESANA BANJAR ADAT BINGIN BANJAH DESA PAKRAMAN TEMUKUS. SEKAA INI DIBENTUK BELANDASKAN ATAS NILAI - NILAI ADAT BALI DAN AJARAN AGAMA HINDU. DALAM BOG INI, KAMI INGIN BERBAGI INFORMASI MENGENAI KEGIATAN YANG KAMI LAKUKAN SEBAGAI BAHAN EDUKASI KITA SEMUA DEMI KEAJEGAN DAN KEMAJUAN ADAT BALI DAN HINDU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: