Makna hari raya Siwaratri

Siwarâtri berarti malam renungan suci atau malam peleburan dosa. Hari Siwarâtri jatuh pada Purwanining Tilem ke VII (Kapitu), yaitu sehari sebelum bulan mati sekitar bulan Januari. Pada hari ini kita melakukan puasa dan yoga samadhi dengan maksud untuk memperoleh pengampunan dari Hyang Widhi atas dosa yang diakibatkan oleh awidya (kegelapan).

Ada 3 jenis Brata pada hari raya Siwarâtri terdiri dari:

  1. Utama, melaksanakan:
    1. Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
    2. Upawasa (tidak makan dan tidak minum).
    3. Jagra (berjaga, tidak tidur).
  2. Madhya, melaksanakan:
    1. Upawasa.
    2. Jagra.
  3. Nista, hanya melaksanakan Jagra.

Hari Siwarâtri kadang kala disebut juga hari Pejagran. Karena pada hari ini Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), yang bermanifestasikan sebagai Siwa dalam fungsinya sebagai pelebur, melakukan yoga semalam suntuk. Karena itu pada hari ini kita memohon kehadapan-Nya agar segala dosa-dosa kita dapat dilebur. Baca Selengkapnya 🙂

Advertisements

Malam Pengrupukan dan Lomba Ogoh-ogoh di Temukus

''bison''(1363)Sehari sebelum hari raya Nyepi biasanya umat hindu mengadakan upacara tawur atau mecaru di persimpangan-persimpangan jalan. Upacara ini sering juga disebut upacara malam Pengrupukan. Di banjar adat bingin banjah di adakan di depan bale banjar setempat. Krama banajar tumpah ruah untuk melakukan persembahyangan yang di pimpin oleh pemuka agama setempat. Upacara ini bertujuan untuk “nyomnye” tau memberi sesajen (caru) kepada buta kala-buta kala agar tidak mengganggu umat pada saat melaksanakan catur brata penyepian. Setelah mereka selesai sembahyang krama lanjut kerumah masing-masing dengan membawa tirta (air suci) untuk mereka juga melaksanakan pecaruan di rumah masing-masing tau sering disebut dengan “mebuu-buu”. Dengan mengitari rumah dan membawa alat pecaruan seperti kulkul,sapu lidi,tektekan,danyuh, dan pelepah kelapa tujuannya juga sama yaitu nyomnye buta kala yang ada dirumah kita dan mengitari rumah sebanyak 3 kali searah dengan putaran jarum jam. Nah itulah prosesi upacara pengrupukan secara umum di bali. Baca Selengkapnya 🙂

Melasti Desa Temukus

''bison''(1355)Umat hindu sebelum marayakan Hari Raya Nyepi biasanya mereka mengadakan upacara melasti ke tempat-tempat sumber air suci biasanya ke laut. Upacara ini bertujuan untuk menyucikan pretima-pretima yang ada di masing-masing kahyangan tiga (Pura desa, Pura Segara, dan Pura Dalem) dan yang ada di dadia masing-masing. Agar semua leteh (kotor) yang ada di dunia ini bisa di prelina atau di bersihkan oleh Sang Hyang Baruna. Nah, semua warga masyarakat tumpah ruang ke pantai Labuan aji yang dijadikan tempat untuk melasti di desa temukus ini. Baca Selengkapnya 🙂

Rahajeng Rahinan Galungan lan Kuningan

Andai jarak tak kuasa berjabat, setidaknya kata masih dapat terungkap. Tulus hati meminta maaf tiada pemberian terindah dan perbuatan termulia selain maaf  dan saling memaafkan.  Semoga di hari kemenangan dharma ini, hati tetap bersih dan suci.

Makna Tumpek Landep

OM Swastiastu,

Tumpek Landep dirayakan setiap Sanisara Kliwon Wuku Landep. Tumpek Landep berasal dari kata Tumpek yang berarti Tampek atau dekat dan Landep yang berarti Tajam. Jadi dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai – nilai agama. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk
Tumpek landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu. Jadi setelah mempertingati Hari Raya Saraswati sebagai perayaan turunya ilmu pengetahuan, maka setelah itu umat memohonkan agar ilmu pengetahuan tersebut bertuah atau memberi ketajaman pikiran dan hati. Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan upacara pembersihan dan penyucian aneka pusaka leluhur seperti keris, tombak dan sebagainya sehingga masyarakat awam sering menyebut Tumpek Landep sebagai otonan besi. Namun seiring perkembangan jaman, makna tumpek landep menjadi bias dan semakin menyimpang dari makna sesungguhnya. Baca Selengkapnya 🙂

Prayaan Pagerwesi Di Bingin Banjah

Bertepatan dengan Hari Raya Pagerwesi seperti biasa para Truna Truni Putra Sesana “ngayah” di pura Ulun Bale Banjar Bingin Banjah. Pada tanggal 19 Juni 2012 sore para truna menghias pura dan membuat penjor. Penjor di pasang di bagian depan pura. Ketua STT mengatakan hal ini memang sudah menjadi tanggung jawab kami sebagi truna truni di banjar adat binginbanjah, selain membantu menggala adat kita sebagai anak muda hendaknya melestarikan budaya bali seperti dalam membuat penjor ini, imbuh Bayu begitu sapaan akrab ketua STT Putra Sesana ini.

Pada hari Pagerwesi para truna truni kembali berkumpul di pura ulun bale banjar, untuk melaksanakan upacara mendak Ida Batara. Upacara ini diikuti pula oleh krama banjar adat binginbanjah lainnnya yang bersuka ria melaksanakan yadnya. Dengan alaunan genta dan iringan gambelan bleganjur yang di mainkan oleh beberapa anggota stt menmbah nilai kesakralan dari upacaara ini. Setelah acara mendak selesai upacara pun dimulai dipimpin oleh pemangku pura ulun bale banjar dan di dampingi oleh klian banjar adat dan klian banjar dinas bingin banjah. Kemudian di ikuti dengan tarian rejang, yang di tarikan oleh truni truni stt putra sesana binginbanjah. Baca Selengkapnya 🙂

Makna dan Tata Cara Teknis Upacara Pabayuhan Sapuh Leger

 Umat hindu terutama di Bali sangat meyakini , bahwa orang yang lahir pada Wuku Wayang (lebih lebih pada Tumpek Wayang) merupakan hari kelahiran yang cemer, mala serta melik (kepingit). Dan kebanyakan orang tua yang mempunyai anak lahir pada wuku wayang merasakan ketakutan dan was was atas kelanjutan kehidupan anaknya. Kebanyakan yakin dengan adanya cerita Geguritan Suddamala yang menceritakan ; Dewa Siwa pura pura sakit keras , dan mengutus Dewi Uma mencari Lembu Putih dialam fana sebagai obat.  Dan sebelum susu didapat Dewi Uma tidak dipekenankan kembali ke Siwaloka,  Sang dewi sangat patuh melaksanakan perintahnya, singkat cerita Dewi Uma menemukan Lembu  Putih tersebut, ternyata untuk mendapatkan susu lembu dewi uma harus melakukan hal yang tidak terpuji yaitu harus mengorbankan kehormatannya dengan si gembala . Dan atas perbuatannya itu Dewa Siwa mengutuk Dewi Uma menjadi Dewi Durga, berujud raksasa dan tinggal di Setra Gandamayu. Dan selanjutnya dari hubungan itu lahirlah seorang anak bermasalah yaitu Dewa Kala sosok makhluk  raksasa yang menyeramkan yang konon lahir pada Sabtu Kliwon Wuku Wayang (terkenal dengan Tumpek Wayang). Putra dari Dewa Siwa yang menyamar sebagai pengembala, merasa bertanggung jawab dengan penyamarannya mengakui Dewa Kala  putranya. Atas pertanyaan Dewa Kala makanan apa yang bisa disantap, Dewa Siwa memberi Ijin kepada putranya orang yang lahir menyamai kelahiran Dewa Kala sendiri dan . Ternyata, putra siwa berikutnya yakni Rare Kumare lahir di Tumpek Wayang. Maka Dewa Kala pun  harus menyantap Rare Kumare meskipun adik kandungnya sendiri, Nah cerita ini berkembang disebut Sapuh Leger. Baca Selengkapnya 🙂