Makna dan Tata Cara Upacara Mepandes

Ciri-ciri anak telah meningkat dewasa.

potong_gigi2Siklus kehidupan makhluk didunia adalah lahir, hidup dan mati (kembali keasalnya). Manusia hidup di dunia mengalami beberapa phase yaitu, phase anak-anak, pada phase ini anak dianggap sebagai raja, semua permintaannya dipenuhi. Phase berikutnya adalah pada masa anak meningkat dewasa. Saat ini anak itu tidak lagi dianggap sebagai raja, tetapi sebagai teman. Orang tua memberikan nasehat kepada anak-anaknya dan anak itu bisa menolak nasehat orang tuanya bila kondisi dan lingkungannya tidak mendukung, artinya terjadi komunikasi timbal balik atau saling melengkapi. Dan yang terakhir adalah phase tua, di sini anak tadi menjadi panutan bagi penerusnya.

            Sebagai tanda dari kedewasaan seseorang adalah suaranya mulai membesar /berubah/ngembakin (bahasa Bali) bagi laki-laki dan bagi perempuan pertama kalinya ia mengalami datang bulan. Sejak saat ini seseorang mulai merasakan getar-getar asmara, karena Dewa Asmara mulai menempati lubuk hatinya. Bila perasaan getar-getar asmara ini tidak dibentengi dengan baik akan keluar dari jalur yang sebenarnya. Perasaan getar-getar asmara itu dibentengi melalui dua jalur yaitu, jalur niskala, membersihkan jiwa anak dengan mengadakan Upacāra yang disebut Raja Sewala dan jalur sekala, dengan memberikan wejangan-wejangan yang bermanfaat bagi dirinya.

Upacāra Raja Sewala ini sesuai dengan apa yang diungkapkan didalam Agastya Parwa bahwa, disebutkan ada tiga perbuatan yang dapat menuju sorga, yaitu: Tapa (pengendalian), Yajña (persembahan yang tulus iklas) dan Kirti (perbuatan amal kebajikan) Upacāra Raja Sewala merupakan Yajña (persembahan yang tulus iklas) yang membuat peluang bagi keluarganya untuk masuk sorga. Baca Selengkapnya 😀

Advertisements

Unesco tetapkan “Subak” sebagai Warisan Dunia

Budaya Subak Bali akhirnya berhasil ditetapkan sebagai warisan dunia oleh Unesco. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengapresiasi ditetapkannya Subak Bali setelah setelah perjuangan selama 12 tahun. “Satu lagi kabar gembira bagi bangsa Indonesia, Bali Culture Landscape ( Budaya Subak Bali) sebagai cermin Tri Hita Karana baru saja disetujui untuk ditetapkan sebagai warisan dunia Unesco,” Wamenbud, Windu Nuryanti, Minggu (20/5/2012).

Windu menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat dan semua yang mendukung budaya Bali tersebut sebagai warisan budaya dunia. “Terima kasih atas semua dukungannya,”ujarnya. Sesuai jadwal Unesco akan menetapkan Bali Culture Landscape ( Budaya Subak Bali) sebagai cermin Tri Hita Karana sebagai warisan dunia Unesco pada 20 Juni mendatang di St Pittersburgh Rusia. Di seluruh Bali, terdapat tak kurang dari 1274 Subak. Semuanya didasari oleh ajaran Tri Hita Karana yang mengajarkan agar setiap orang selalu mengupayakan keseimbangan antara pengabdian manusia kepada Tuhan (Parahyangan) dengan pelayanan mereka terhadap sesame manusia (Pawongan), serta kecintaan merawat alam lingkungan (Palemahan) agar tetap lestari.  Baca Selengkapnya 🙂

Upacara Sudhi Wadani

A. Pengertian Sudhi Wadani

            Upacara Suddhi Wadani adalah upacara dalam agama Hindu yang di cetuskan secara syah dalam Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir terhadap Aspek-Aspek agama Hindu yang di selenggarakan tanggal 18 sampai dengan 20 Februari 1981 di Denpasar Bali, dengan maksud memberi pengesahan status seseorang yang sebelumnya bukan penganut Agama Hindu. Sudhi wadani berasal dari kata sudhi dan wadani. Sudhi dari bahasa Sansekerta (f), yang berarti penyucian, persembahan, upacara pembersihan/penyucian. Kata yang sepadan dengan sudhi adalah suddha, yang berarti bersih, suci, cerah, putih tanpa cacat atau cela.

Wadani berarti banyak perkataan, banyak pembicaraan. Adapun bentuk-bentuknya seperti :

  1. Wadana yang dapat berarti muka, mulut, prilaku/cara berbicara.
  2. Wadanya yang berarti fasih berbicara, ramah, banyak bicara.

Dengan memperhatikan arti kata suddhi dan wadani tadi, maka suddhi wadani dapat di artikan dengan kata-kata penyucian. Secara singkat dapat di katakan bahwa upacara sudhi wadani adalah upacara dalam Hindu sebagai pengukuhan atau pengesahan ucapan atau janji seseorang yang secara tulus ikhlas dan hati suci menyatakan menganut agama hindu. Dalam pengukuhan ini yang menjadi saksi utama adalah Sang Hyang widhi (Tuhan), yang bersangkutan sendiridan Pimpinan Parisadha Hindu Dharma Indonesia atau yang di tunjuk untuk mewakili acara di maksud. Baca Selengkapnya 🙂

Wayang Sapuh Leger

Kata “Sapuh Leger” di Bali secara khusus dihubungkan dengan pertunjukkan wayang dalam kaitannya untuk pemurnian kepada anak/orang yang lahir tepat pada wuku wayang dalam siklus kalender tradisional Bali (Di Jawa juga ada bila kalender-nya lengkap). Secara ritual upacara pemurnian dinamakan lukat/nglukat, yaitu suatu aktivitas untuk membuat air suci (tirta) yang dilakukan baik oleh seorang pendeta (pedanda/pemangku) maupun seorang dalang (Mangku Dalang) dengan tujuan untuk membersihkan mala (kekotoran) rohani seseorang.
Kenyataannya di lapangan bahwa ada dua macam upacara pembersihan (nglukat) dengan sarana wayang kulit yakni Sudhamala dan Sapuh Leger. Sudhamala adalah pembuatan air suci (tirta panglukatan) yang dilakukan dalang setelah pentas wayang berakhir, ditujukan untuk pemurnian pada upacara keagamaan yang meliputi upacara panca yajna (dewa yajna, rs yajna, pitra yajna, manusa yajna, dan butha yajna), sedangkan sapuh leger adalah pembuatan air suci (tirta panglukatan) yang dilakukan seorang dalang sehabis pertunjukkan wayang, ditujukan untuk pembersihan seseorang yang khusus lahir pada wuku wayang.
Istilah sapuh leger berasal dari kata dasar “sapuh” dan “leger”. Dalam kamus Bali-Indonesia, terdapat kata sapuh yang artinya membersihkan, dan kata leger sinonim dengan kata leget (bahasa jawa) yang artinya tercemar atau kotor. Sehingga secara harfiah sapuh leger diartikan pembersihan atau penyucian dari keadaan tercemar atau kotor. Secara keseluruhan, wayang sapuh leger adalah suatu drama ritual dengan sarana pertunjukkan wayang kulit yang bertujuan untuk pembersihan atau penyucian diri seseorang akibat tercemar atau kotor secara rohani. Baca Selengkapnya 🙂

Banten Otonan

Mendapat permintaan dari salah satu pembaca untuk memposting banten otonan, kami mencari refrensi yang ada dan ini menurut kami yang terlengkap. Silahkan dibaca yaa..Upacara yang dilakukan setelah bayi berumur 210 hari atau enam bulan pawukon. Upacara ini bertujuan untuk menebus kesalahan-kesalahan dan keburukan-keburukan yang terdahulu, sehingga dalam kehidupan sekarang mencapai kehidupan yang lebih sempurna.

Sarana upakara kecil: prayascita, parurubayan, jajanganan, tataban, peras, lis, banten pesaksi ke bale agung (ajuman) sajen turun tanah dan sajen kumara. Upakara yang lebih besar : prayascita, parurubayan, jejanganan, tataban, peras, lis, banten pesaksi ke bale agung (ajuman) sajen turun tanah, sajen kumara, ditambah gembal bebangkit. Waktu upacara wetonan dilaksanakan pada saat bayi berusia 210 hari. Pada saat itu kita akan bertemu dengan hari yang sama seperti saat lahimya si bayi (pancawara, saptawara, dan wuku yang sama). Selanjutnya boleh dilaksanakan setiap 210 hari, semacam memperingati hari ulang tahun. Tentu saja semakin dewasa, semakin sederhana bantennya. Tempat seluruh rangkaian upacara ini dilaksanakan di rumah. Pelaksana upacara dipimpin oieh pandita / pinandita atau oleh keluarga tertua. Baca Selengkapnya 🙂

NYEPI TAHUN CAKA 1934

HARI RAYA SOMA RIBEK

Hari Soma Pon Sinta, disebut hari raya Soma Ribek. Menurut Sundari Gama (Sinar Agama) pada hari ini Sanghyang Tri Murti Mrtha beryoga, dengan pulu / lumbung (tempat beras dan tempat padi) selaku tempatnya.

Pada hari tersebut umat Hindu di Bali disarankan memusatkan perhatian kepada rasa syukur atas keberadaan pangan. Secara fisik dicerminkan dengan melaksanakan tindakan-tindakan khusus terhadap padi dan beras, misalnya: tak boleh menumbuk padi, menggiling beras dan sebagainya. Mengadakan widhi widana seperti lazimnya, dipersembahkan pada tempat- tempat penyimpanan beras dan padi, sebagai makanan pokok.

Boleh dikatakan, hari ini adalah Hari Pangan bagi umat Hindu. Pada saat- saat itu kita diminta ngastiti Sang Hyang Tri Pramana yaitu: Cri, Sadhana dan Saraswati. Terutama hendaklah kita mengisap sarining tattwa adnjana yaitu memetik sari-sari ajaran-ajaran kebenaran / ketuhanan.