TUMPEK LANDEP

Tumpek Landep dirayakan setiap Sanisara Kliwon Wuku Landep. Tumpek Landep berasal dari kata Tumpek yang berarti Tampek atau dekat dan Landep yang berarti Tajam. Jadi dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai – nilai agama. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk

Tumpek landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai Baca Selengkapnya… 🙂

Advertisements

HARI RAYA SOMA RIBEK

Hari Soma Pon Sinta, disebut hari raya Soma Ribek. Menurut Sundari Gama (Sinar Agama) pada hari ini Sanghyang Tri Murti Mrtha beryoga, dengan pulu / lumbung (tempat beras dan tempat padi) selaku tempatnya.

Pada hari tersebut umat Hindu di Bali disarankan memusatkan perhatian kepada rasa syukur atas keberadaan pangan. Secara fisik dicerminkan dengan melaksanakan tindakan-tindakan khusus terhadap padi dan beras, misalnya: tak boleh menumbuk padi, menggiling beras dan sebagainya. Mengadakan widhi widana seperti lazimnya, dipersembahkan pada tempat- tempat penyimpanan beras dan padi, sebagai makanan pokok.

Boleh dikatakan, hari ini adalah Hari Pangan bagi umat Hindu. Pada saat- saat itu kita diminta ngastiti Sang Hyang Tri Pramana yaitu: Cri, Sadhana dan Saraswati. Terutama hendaklah kita mengisap sarining tattwa adnjana yaitu memetik sari-sari ajaran-ajaran kebenaran / ketuhanan.

HARI RAYA PAGERWESI

Hari raya Pagerwesi jatuh pada hari Budha Keliwon Wuku Sinta. Dalam kalender hari suci di Bali, hari ini adalah hari ke 5 dari serangkaian hari raya penting, yaitu

Hari ke-1    Hari raya Saraswati                      Sabtu        Saniscara Umanis Watugunung

Hari  ke-2  Hari Raya Banyu Pinaruh           Minggu    Redite Paing Sinta

Hari ke-3   Hari Raya Some Ribek                 Senin        Soma Pon Sinta

Hari ke-4   Hari Raya Sabuh Mas                   Selasa       Anggara Wage Sinta

Hari ke-5   Hari raya Pagerwesi                      Rabu        Buda Keliwon Sinta

Hari ini adalah payogan Hyang Pramesti Guru, disertai para Dewa dan Pitara, demi kesejahteraan dunia dengan segala isinya dan demi sentosanya kehidupan semua makhluk.

Pada saat itu umat hendaklah ayoga semadhi, yakni menenangkan hati serta menunjukkan sembah bhakti kehadapan Ida Sang Hyang Widhi. Juga pada hari ini diadakan widhi widhana seperlunya, dihaturkan dihadapan Sanggar Kemimitan disertai sekedar korban untuk Baca Selengkapnya… 🙂

HARI RAYA SARASWATI

Saraswati adalah nama dewi, Sakti Dewa Brahma (dalam konteks ini, sakti berarti istri). Dewi Saraswati diyakini sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa dalam fungsi-Nya sebagai dewi ilmu pengetahuan. Dalam berbagai lontar di Bali disebutkan “Hyang Hyangning Pangewruh.”

Di India umat Hindu mewujudkan Dewi Saraswati sebagai dewi yang amat cantik bertangan empat memegang: wina (alat musik), kropak (pustaka), ganitri (japa mala) dan bunga teratai. Dewi Saraswati dilukiskan berada di atas angsa dan di sebe-lahnya ada burung merak. Dewi Saraswati oleh umat di India dipuja dalam wujud Murti Puja. Umat Hindu di Indonesia memuja Dewi Saraswati dalam wujud hari raya atau rerahinan.

Hari raya untuk memuja Saraswati dilakukan setiap 210 hari yaitu setiap hari Sabtu Umanis Watugunung. Besoknya, yaitu hari Minggu Paing wuku Sinta adalah hari Banyu Pinaruh yaitu hari yang merupakan kelanjutan dari perayaan Saraswati. Perayaan Saraswati berarti mengambil dua wuku yaitu wuku Watugunung (wuku yang terakhir) dan wuku Sinta (wuku yang pertama). Hal ini mengandung makna untuk mengingatkan kepada manusia untuk menopang hidupnya dengan ilmu pengetahuan yang didapatkan dari Sang Hyang Saraswati. Karena itulah ilmu penge-tahuan pada akhirnya adalah untuk memuja Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewi Baca Selengkapnya.. 🙂

HARI RAYA SABUH MAS

Hari raya Sabuh Mas, yang datang 210 hari sekali pada hari Anggara Wage Wuku Sinta adalah Pesucian Sang Hyang Mahadewa dengan melimpahkan restunya pada raja berana seperti logam mulia, (emas, perak), harta, permata, manik dan sebagainya.

Kepada umat disarankan melakukan asuci laksana, mencurahkan penghargaan penuh dengan rasa syukur atas keberadaan mas manik raja berana serta benda-benda berharga lainnya, secara fisik diwujudkan dengan mengadakan Widhi Widhana sebagaimana biasanya. Lakukan pembersihan, pemeriksaan keadaan, serta pemeriksaan keamanan dan pengamanannya.

Sekali lagi, semuanya dilakukan dalam kerangka rasa syukur atas karunia Sanghyang Widhi Wasa. Segalanya berasal dari ijin dan restu beliau, oleh karena itu apabila beliau kehendaki terjadinya sesuatu hal yang memisahkan kita dari mas manik raja berana ini, siaplah batin kita melepaskan segalanya tanpa rasa berat hati. Ikatan duniawi seperti mas manik raja berana bukanlah ikatan yang lebih berharga dari ikatan kita kepada beliau Sanghyang Widhi Wasa.

REINKARNASI / PUNARBAWA

Reinkarnasi, Punarbhawa tidak terbatas ruang dan waktu, karena di alam roh tidak dikenal roh Arab, India, Cina, Bali dsb. Yang ada hanyalah roh besar, yang akan mengecil ketika mengisi wadag yang kecil, seperti semut misalnya; dan ia akan menjadi besar ketika mengisi wadag, seperti gajah. Roh tidak mengenal masa lampau, masa sekarang maupun masa depan; karena roh tidak terpengaruh oleh ketiga masa itu. Pedanda menegaskan bahwa punarbhawa tidak selalu terjadi dilingkungan keluarga saja, atau berasal dari leluhur. Punarbhawa bisa terjadi dari seluruh manusia di permukaan bumi ini. Bahkan punarbhawa bisa terjadi dari mahluk-mahluk lain, selain manusia.
Roh itu ibarat sekumpulan awan yang kemudian berubah menjadi titik-titik air hujan yang kemudian jatuh, ke bumi. Ada yang jatuh di laut, ada pula yang jatuh di darat. Dan titik air haujan, baik yang jatuh di laut maupun di darat sulit dikenali lagi karena sudah bercampur dengan air laut dan tanah. Baik air hujan yang jatuh di laut maupun di darat, nanti pada akhirnya berkumpul di laut juga. Yang jatuh di laut berarti kembali ke asal, karena awan berasal dari penguapan air laut, sedangkan yang jatuh di pegunungan akan menjadi tirtha. Manusia mati ibarat uap setitik air laut (roh individual) yang karena ringan naik keangkasa dan berkumpul dengan uap air-air laut (berbagai roh), membentuk awan (roh besar), yang lalu karena berat oleh muatan beban (karma wasana masa lalu), lalu jatuh kembali (punarbhawa) ke bumi. Gambaran ini merupakan gambaran perjalanan roh melalui punarbhawa yang tiada habisnya, sampai ketika suatu saat semua beban-beban yang memberatkan sang roh hilang lenyap, maka ia tidak akan jatuh lagi, tetapi menyatu dengan Hyang Widhi menuju Baca Selengkapnya.. 🙂

PENGERTIAN HINDU DAN PENYEBARANNYA

Selama ribuan tahun agama punya peran yang vital bagi milyaran orang di seluruh dunia. Menurut suatu penelitian saat ini lebih dari 70% penduduk bumi menganut suatu agama tertentu. Tujuannya tentu saja un
tuk menciptakan rasa damai pada diri sendiri serta dunia dengan segala isinya.

Selain itu agama juga selalu punya pengaruh, ketika seseorang mengalami peristiwa penting dalam hidupnya. Semua agama berada dalam kehidupan manusia untuk menjawab segala macam persoalan kehidupan. Tidak terkecuali dalam hal ini adalah agama Hindu.

Agama Hindu adalah salah satu agama tertua di dunia yang berasal dari Baca Selengkapnya.. 🙂