Kahyangan Jagat Pura Agung Gunung Raung

Desa taro adalah sebuah desa dengan keindahan alam dan kehidupan masyarakatnya yang sangat khas. Alam yang asri, udara yang segar  menebar pesona bagi siapa saja yang berkunjung ke wilayah ini. Dengan segala keunikannya,  desa Taro telah menjadi salah satu tujuan wisata di pulau seribu pura ini. Dibalik geliat kehidupan pariwisata yang berkembang  di desa Taro, tersimpan jejak peradaban manusia Bali.

Di tempat inilah, pijakan tentang nilai-nilai kebijaksanaan dicetuskan. Adalah Ida Maha Yogi Rsi Markandeya yang berperan penting dalam sejarah manusia Bali. Rsi Markendya bersama para pengikutnya membangun tatanan kehidupan baru. Hal ini berawal dari perjalanan Ida Mahayogi Rsi Markandeya yang mendapatkan  wahyu  dari Hyang Penguasa Alam ketika melakukan tapa yoga semadhi di Gunung Raung Jawa Timur. Dalam wahyu tersebut, Sang Maha Rsi diperintahkan untuk  melakukan menyebarkan agama Hindu kearah timur yakni Bali Puline.
‘’wus puput sira ambabad, tumuli lemah ika ingaran lemah Sarwada. Sarwada ngaran. Salwir hyun aken ikang sira Maharsi Markyandya, ajnana ngaran kahyun, kahyun ngaran kayu, tahen naman ira waneh, taru ngaran taro……..” Baca Selengkapnya 🙂

Advertisements

Eedan Karya Ring Pura Besakih Tahun 2012

Om Swastyastu,

EED TAWUR TABUH GENTUH & KARYA IDA BHATARA TURUN KABEH RING PURA AGUNG BESAKIH TAHUN 2012

1. Soma Kliwon Krurut 12 Maret 2012 :
– Ngaturang Pemiyut
– Negtegang
– Ngunggahang Sunari
– Pengrajeg lan Pengemit Karya
2. Soma Paing Merakih 19 Maret 2012 :
– Piuning Mider
3. Buda Wage Merakih 21 Maret 2012 :
– Mepepada
– Bhumi Sudha
– Menben
4. Wraspati Kiwon Merakih 22 Maret 2012 :
– Tawur Tabuh Gentuh
5. Redite Pon Tambir 25 Maret 2012 :
– Panglemek Tawur Tabuh Gentuh Baca Selengkapnya 🙂

ST Putra Sesana ”Ngayah” di Pura Segara Temukus

Pada tanggal 18 Maret 2012 ST Putra Sesana yang mendapat amongan ‘’ngayah’’ di pura segara desa pakraman temukus ikut serta dalam prosesi upacara melasti ini. Terlihat juga kelian banjar adat dusun bingin banjah mendampingi anggota sekee truna truni dalam ritual melasti kemarin. Ritual ini di pimpin oleh 3 pemangku kahyangan tiga, yaitu pemangku dari pura dalem, pura desa, dan pura segara desa pakraman Temukus. Para pemedek sangat ramai, yang datang dari seluruh desa temukus yang membawa pratima-pratima dari mrajan mreka masing-masing untuk di sucikan. Upacara melasti ini di pusatkan di pantai Labuan Aji. Upacara melasti ini juga tidak terlepas dari hari raya Nyepi yang akan datang pada tanggal 23 Maret 2012 ini. Baca Selengkapnya 🙂

PURA DI TIMOR LESTE

Berkat Xanana, Pura Girinatha di Dili (Timor-Timur) Tetap Bertahan

Keberadaan Pura di kota Dili Timor Leste hingga kini tetap dipertahankan. Hal ini tak terlepas dari keinginan Xanana Gusmao, sewaktu masih menjabat sebagai presiden.

Hal itu ditegaskan Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat acara open house di wantilan DPRD Bali, Sabtu (25/4). Padahal, kata Pastika yang pernah bertugas di Timtim, pernah mengutarakan akan memprelina (meniadakan) Pura terbesar di Dili itu, menyusul hengkangnya warga Bali (Hindu) dari Timtim pasca jajak pendapat.

“Saya sudah pernah sampaikan keinginan ke Xanana untuk memprelina Baca Selengkapnya.. 🙂

PURA PONJOK BATU

Pura Ponjok Batu, Penyeimbang Bali Utara

Pura Ponjok Batu merupakan salah satu Penyungsungan Jagat atau Pura Dang Kahyangan, selain Pura Pulaki di Desa Banyupoh, Gerokgak. Pura ini terletak di Desa Julah, Kecamatan Tejakula, Buleleng. Memang tidak ada data pasti mengenai awal keberadaan pura ini. Namun yang diketahui, keberadaan pura ini tak bisa lepas dari sejarah kedatangan Pendeta Siwa Sidanta yaitu Danghyang Nirartha (Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke-15, saat masa pemerintahan Dalem Waturenggong di Bali.

===========================================================

Pura ini memiliki rekaman sejarah yang panjang dan unik. Hal tersebut ditelusuri lewat temuan arkeologi, efigrafi dan folklore (cerita rakyat) yang hidup di tengah masyarakat Julah dan sekitarnya.

Berdasarkan kajian arkeologis, saat penggalian di lokasi perbaikan pura tahun 1995 ditemukan sarkopah/sarkopagus. Kini sarkopah itu disimpan bersama sarkopah lainnya di halaman depan Pura Duhur Desa Kayuputih, Banjar. Sarkopah (peti mayat) terbuat dari Baca Selengkapnya 🙂

MENJAGA KESUCIAN PURA

Menurut Kekawin Arjuna Wiwaha X.1/98 Mrdhu Komala gubahan Mpu Kanwa:

ONG SEMBAHNING ANATHA TINGHALANA, DE TRI LOKA SARANA. WAHYA DHYATMIKA SEMBAHINGULUNI JONG TA, TAN HANA WANEH. SANG LWIR AGNI SAKENG TAHEN, KADI MINYAK SAKENG DADI KITA. SANG SAKSAT METU, YAN HANA WWANG AMUTER TUTUR PINIHAYU

Terjemahannya: Sanghyang Widhi yang maha suci, lihatlah bhakti hamba yang nista ini, karena Engkau yang menguasai tiga alam (bhur-bhuwah-swah). Nyata dan tidak nyata bhakti hamba kepada-Mu, tiada tandingannya. Engkau laksana api yang keluar dari kayu, bagaikan minyak yang keluar dari santan. Engkau datang kepada mereka yang sadar akan kehadiran-Mu untuk membawa kebahagiaan.

Perhatikan baris kedua: “wahya dhyatmika sembahingulun” yang mengisyaratkan bahwa sebelum bersembahyang kita telah memenuhi dua syarat utama, yaitu:

1. Wahya, artinya gerak atau sikap nyata meliputi cara berjalan, sikap duduk, sikap tangan, nafas teratur, dan alat-alat pemujaan yang bersih dan baik.

Kriterianya meliputi antara lain: tubuh yang bersih/ sudah mandi, pakaian yang bersih dan sopan, banten atau canang yang sesuai Baca Selengkapnya

PURA BESAKIH, TEMPAT UMAT MEMOHON KESELAMATAN

PURA Besakih kini memang menjadi pusat perhatian serangkaian akan diselenggarakannya upacara Panca Bali Krama. Terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, pura ini berada di kaki Gunung Agung — di lereng barat daya pada ketinggian sekitar 1.000 meter dari permukaan laut.

Gunung Agung yang tingginya sekitar 3142 meter, gunung tertinggi di Bali, merupakan bagian penting yang tak terpisahkan dari keberadaan Pura Besakih. Berdasarkan catatan, Gunung Agung sudah pernah meletns beberapa kali — pada tahun 1089, 1143, 1189 dan 1963.

Perihal berdirinya Pura Besakih, berdasarkan catatan-catatan yang terdapat dalam prasasti logam maupun lontar-lontar, disebutkan pada mulanya merupakan bangunan pelinggih kecil yang kemudian diperbesar dan diperluas secara bertahap dalam tempo yang cukup lama. Dari sumber-sumber catatan itu diketahui bahwa pada permulaan abad ke-11 yaitu tahun 1007, Pura Baca Selanjutnya