Makna hari raya Siwaratri

Siwarâtri berarti malam renungan suci atau malam peleburan dosa. Hari Siwarâtri jatuh pada Purwanining Tilem ke VII (Kapitu), yaitu sehari sebelum bulan mati sekitar bulan Januari. Pada hari ini kita melakukan puasa dan yoga samadhi dengan maksud untuk memperoleh pengampunan dari Hyang Widhi atas dosa yang diakibatkan oleh awidya (kegelapan).

Ada 3 jenis Brata pada hari raya Siwarâtri terdiri dari:

  1. Utama, melaksanakan:
    1. Monabrata (berdiam diri dan tidak berbicara).
    2. Upawasa (tidak makan dan tidak minum).
    3. Jagra (berjaga, tidak tidur).
  2. Madhya, melaksanakan:
    1. Upawasa.
    2. Jagra.
  3. Nista, hanya melaksanakan Jagra.

Hari Siwarâtri kadang kala disebut juga hari Pejagran. Karena pada hari ini Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa), yang bermanifestasikan sebagai Siwa dalam fungsinya sebagai pelebur, melakukan yoga semalam suntuk. Karena itu pada hari ini kita memohon kehadapan-Nya agar segala dosa-dosa kita dapat dilebur. Baca Selengkapnya :)

Makna dan Tata Cara Upacara Mepandes

Ciri-ciri anak telah meningkat dewasa.

potong_gigi2Siklus kehidupan makhluk didunia adalah lahir, hidup dan mati (kembali keasalnya). Manusia hidup di dunia mengalami beberapa phase yaitu, phase anak-anak, pada phase ini anak dianggap sebagai raja, semua permintaannya dipenuhi. Phase berikutnya adalah pada masa anak meningkat dewasa. Saat ini anak itu tidak lagi dianggap sebagai raja, tetapi sebagai teman. Orang tua memberikan nasehat kepada anak-anaknya dan anak itu bisa menolak nasehat orang tuanya bila kondisi dan lingkungannya tidak mendukung, artinya terjadi komunikasi timbal balik atau saling melengkapi. Dan yang terakhir adalah phase tua, di sini anak tadi menjadi panutan bagi penerusnya.

            Sebagai tanda dari kedewasaan seseorang adalah suaranya mulai membesar /berubah/ngembakin (bahasa Bali) bagi laki-laki dan bagi perempuan pertama kalinya ia mengalami datang bulan. Sejak saat ini seseorang mulai merasakan getar-getar asmara, karena Dewa Asmara mulai menempati lubuk hatinya. Bila perasaan getar-getar asmara ini tidak dibentengi dengan baik akan keluar dari jalur yang sebenarnya. Perasaan getar-getar asmara itu dibentengi melalui dua jalur yaitu, jalur niskala, membersihkan jiwa anak dengan mengadakan Upacāra yang disebut Raja Sewala dan jalur sekala, dengan memberikan wejangan-wejangan yang bermanfaat bagi dirinya.

Upacāra Raja Sewala ini sesuai dengan apa yang diungkapkan didalam Agastya Parwa bahwa, disebutkan ada tiga perbuatan yang dapat menuju sorga, yaitu: Tapa (pengendalian), Yajña (persembahan yang tulus iklas) dan Kirti (perbuatan amal kebajikan) Upacāra Raja Sewala merupakan Yajña (persembahan yang tulus iklas) yang membuat peluang bagi keluarganya untuk masuk sorga. Baca Selengkapnya :D

Malam Pengrupukan dan Lomba Ogoh-ogoh di Temukus

''bison''(1363)Sehari sebelum hari raya Nyepi biasanya umat hindu mengadakan upacara tawur atau mecaru di persimpangan-persimpangan jalan. Upacara ini sering juga disebut upacara malam Pengrupukan. Di banjar adat bingin banjah di adakan di depan bale banjar setempat. Krama banajar tumpah ruah untuk melakukan persembahyangan yang di pimpin oleh pemuka agama setempat. Upacara ini bertujuan untuk “nyomnye” tau memberi sesajen (caru) kepada buta kala-buta kala agar tidak mengganggu umat pada saat melaksanakan catur brata penyepian. Setelah mereka selesai sembahyang krama lanjut kerumah masing-masing dengan membawa tirta (air suci) untuk mereka juga melaksanakan pecaruan di rumah masing-masing tau sering disebut dengan “mebuu-buu”. Dengan mengitari rumah dan membawa alat pecaruan seperti kulkul,sapu lidi,tektekan,danyuh, dan pelepah kelapa tujuannya juga sama yaitu nyomnye buta kala yang ada dirumah kita dan mengitari rumah sebanyak 3 kali searah dengan putaran jarum jam. Nah itulah prosesi upacara pengrupukan secara umum di bali. Baca Selengkapnya :)

Melasti Desa Temukus

''bison''(1355)Umat hindu sebelum marayakan Hari Raya Nyepi biasanya mereka mengadakan upacara melasti ke tempat-tempat sumber air suci biasanya ke laut. Upacara ini bertujuan untuk menyucikan pretima-pretima yang ada di masing-masing kahyangan tiga (Pura desa, Pura Segara, dan Pura Dalem) dan yang ada di dadia masing-masing. Agar semua leteh (kotor) yang ada di dunia ini bisa di prelina atau di bersihkan oleh Sang Hyang Baruna. Nah, semua warga masyarakat tumpah ruang ke pantai Labuan aji yang dijadikan tempat untuk melasti di desa temukus ini. Baca Selengkapnya :)

Proses Pembuatan Ogoh-ogoh tahun 2013

''bison''(1331)       Ogoh-ogoh mrupakan seni patung yang indentik dengan prayaan Nyepi di pulau dewata bali. Setiap menjelang prayaan hari raya Nyepi para muda mudi bali atau lebih sering disebut sekee truna truni di masing-masing banjar dan desa sibuk membuat ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh biasanya menceritakan sesuwatu dan bisa mengambil tema yang berbeda, ada yang bertema pewayangan dan ada juga tema raksasa yang menyeramkan. Hal ini sudah sejak lama ada sebagai tradisi umat Hindu untuk menyambut hari raya Nyepi ini yang datang setiap 1 tahun sekali yang jatuh pada setiap sasih kesanga. Hal ini juga bertujuan untuk meningkatkan rasa kecintaan terhadap seni dan budaya bali kepada genersi penerus Bali, yaitu para truna truni sebali. Baca Selengkapnya :)

Rahajeng Nyepi Tahun Baru Saka 1935

new 1935

Rahajeng Rahinan Galungan lan Kuningan

Andai jarak tak kuasa berjabat, setidaknya kata masih dapat terungkap. Tulus hati meminta maaf tiada pemberian terindah dan perbuatan termulia selain maaf  dan saling memaafkan.  Semoga di hari kemenangan dharma ini, hati tetap bersih dan suci.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.